Laman

Loading...

Cari Blog Ini

Rabu, 29 Agustus 2012

Kura-kura batok (Cuora amboinensis couro (Schweigger, 1812))



Kuya batok alias kura-kura batok (Cuora amboinensis couro (Schweigger, 1812))
adalah sejenis kura-kura yang tergolong suku Geoemydidae. Menyebar luas dari India di sebelah barat hingga Maluku di timur, kura-kura ini dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Amboina Box Turtle atau Southeast Asian Box Turtle. Nama spesiesnya merujuk pada Amboina (nama lama Ambon), yakni lokasi asal tipe spesies ini.

Punggung berwarna kehitaman, kecoklatan hingga coklat-zaitun. Perutnya putih kotor atau krem, dengan bercak-bercak besar kehitaman. Kepala berwarna hitam dengan tiga garis kuning yang khas: pada sekeliling tepi kepala di atas mata, pada pipi, dan pada bibirnya. Garis kuning juga terdapat sepanjang tepi kaki-kakinya.

Penyebaran kuya batok ini di pulau-pulau Indonesia bagian barat: Sumatra, Jawa, Bali dan Sumbawa.
Dendrelaphis formosus/ Elegant Brozen back/Ular tampar-ular tambang




Ular tampar atau kadang juga ada yang menyebutnya ular tambang atau ular tali. Ular ini memiliki tubuh yang kurus panjang dan nampak liat sebagaimana tali.

Ular-ular ini biasanya berada di pohon ini kurus ramping dan sangat gesit dan lincah, berukuran panjang sekitar 1 -  1,5 m. Ekornya panjang, mencapai sepertiga dari panjang tubuh keseluruhan.

Pada masing-masing sisi tubuh bagian bawah terdapat pita tipis kuning terang keputihan, dipisahkan dari sisik ventral (perut) yang sewarna oleh sebuah garis hitam tipis memanjang hingga ke ekor. Kepala kecoklatan perunggu di sebelah atas, dan kuning terang di bibir dan dagu. Lidahnya berwarna merah.

Ular ini sering turun ke tanah untuk memangsa katak atau kadal yang menjadi menu utamanya.

Ular tambang ini menyebar di kawasan Australia, Papua dan Asia. Umumnya menghuni hutan-hutan di dataran rendah dan pegunungan hingga ketinggian lebih dari 1350 m. Namun lebih menyukai daerah-daerah terbuka, tepian hutan, kebun, wanatani campuran, belukar dan tepi sawah. Kadang ditemukan merambat di pagar tanaman di pekarangan.

Kerbau

Kerbau - Bubalus bubalis



Jenis satwa kerbau merupakan mamalia yang memamabiak, jenis ini termasuk dalam sub-family bovinae.

Di  Indonesia jenis kerbau umumnya sudah jinak atau dipelihara oleh manusia. Namun masih ada juga jenis kerbau yang masih liar dan masih dapat ditemukan di daerah-daerah Pakistan, India, Bangladesh, Nepal, Bhutan, Vietnam, Cina, Filipina, Taiwan, Indonesia, dan Thailand. Sayangnya saat ini (2012), populasi kerbau liar di kawasan Asia sudah menurun.

Diperkirakan juga bahwa hampir tidak ada lagi kerbau liar yang hidup di alam liar. Berat badan kerbau dewasa sekitar 300 kg hingga 600 kg. Kerbau liar dapat memiliki berat yang lebih, kerbau liar betina dapat mencapai berat hingga 800 kg dan kerbau liar jantan dapat mencapai berat hingga 1200 kg. Berat rata-rata kerbau jantan adalah 900 kg dan tinggi rata-rata di bagian pundak kerbau adalah 1,7 m.

Salah satu ciri yang membedakan kerbau liar dengan kerbau domestik adalah bahwa kerbau domestik memiliki perut yang bulat. Dengan adanya percampuran keturunan antara kerbau-kerbau antara populasi yang berbeda, berat badan kerbau dapat bervariasi. Kerbau diperkirakan berasal dari Asia selatan.

Klasifikasi kerbau masih belum pasti, beberapa autoritas mengelompokkan kerbau sebagai suatu spesies Bubalus bubalis dengan tiga subspesies yaitu :
  1. Kerbau sungai (B. bubalis bubalis) yang berasal dari Asia selatan.
  2. Kerbau rawa (B. bubalis carabanesis) atau kerbau rawa yang berasal dari Asia tenggara.
  3. Arni atau kerbau liar (B. bubalis arnee). Jenis lain biasanya masih berkerabat dekat dengan subspesies ini.
Kawasan Asia adalah tempat asal kerbau. Hampir 95% dari populasi kerbau di dunia terdapat di Asia.
Ada dua subspesies yang hidup di Asia yaitu kerbau sungai yang dapat ditemukan di Nepal hingga di ketinggian 2.800 m, dan kerbau rawa yang hidup di dataran rendah.

Gajah - Elephas maximus

Gajah Riau Sumatera



Jenis gajah ini termasuk kedalam, keluarga/famili Elephantidae. Gajah merupakan hewan mamalia darat terbesar yang masih hidup.

Gajah adalah salah satu hewan yang ada di Indonesia. Gajah adalah binatang menyusui (mammalia) dan merupakan hewan darat terbesar di dunia. Di dunia terdapat 2 spesies gajah, yaitu:
  1. Gajah Asia atau Gajah India (Elephas maximus).
  2. Gajah Afrika (Loxodonta aricana).
Periode kehamilan gajah adalah 22 bulan, masa kehamilan terlama dibandingkan hewan darat lainnya. Berat anak gajah pada umumnya 120 kilogram dan seekor gajah bisa hidup selama kurang lebih 70 tahun.
Gajah juga pernah digunakan dalam peperangan sebagai gajah perang, yang digunakan untuk menyerang musuh. Gajah adalah satu-satunya mamalia di dunia yang tidak bisa melompat.

Gajah Asia memiliki telinga lebih kecil sedikit daripada gajah Afrika, mempunyai dahi yang rata, dan dua bonggol di kepalanya merupakan puncak tertinggi gajah, dibandingkan dengan gajah Afrika yang mempunyai hanya satu bonggol di atas kepala. Selain itu, ujung belalai gajah Asia hanya mempunyai 1 bibir, sementara gajah Afrika mempunyai 2 bibir di ujung belalai. Gajah jantan mempunyai gading yang jelas terlihat.

Gajah termasuk dalam kategori hewan herbivora, yang dapat menghabiskan 16 jam sehari untuk mengumpulkan makanan. Makanannya terdiri atas sedikitnya 50% rumput, ditambah dengan dedaunan, ranting, akar, dan sedikit buah, benih dan bunga. Karena gajah hanya mencerna 40% dari yang dimakannya, mereka harus mengonsumsi makanan dalam jumlah besar. Gajah dewasa dapat mengonsumsi 140-270 kg makanan per hari. Enam puluh persen dari makanan tersebut tertinggal dalam perut gajah dan tidak dicerna.

Gajah hidup di dalam urutan sosial yang terstruktur. Kehidupan sosial dari jantan dan betina sangat berbeda. Betina menghabiskan hampir seluruh hidupnya di dalam satu kelompok keluarga yang terdiri atas ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan bibi. Kelompok ini dipimpin oleh gajah betina tertua dan ketika seekor gajah betina sedang mengandung, maka 2 - 3 gajah betina lainnya akan menemani hingga si ibu gajah melahirkan. Sedangkan jantan dewasa menghabiskan waktunya dalam kehidupan sendiri (tidak berkelompok).

Elang Brontok - Crested Hawk-eagle/Changeable Hawk-eagle - Spizaetus cirrhatus


Elang Brontok




Nama ilmiah jenis ini resminya adalah Nisaetus cirrhatus yang mempunyai sinonim Spizaetus cirrhatus, sejenis burung pemangsa (raptor) dan anggota suku Accipitridae. 

Elang jenis ini ada versi corak warna (versi fase terang, fase gelap, fase peralihan). Pada elang brontok fase gepal; warnanya yang sangat berubah-ubah menyulitkan identifikasi. Bentuk yang berwarna gelap (coklat gelap seluruh tubuhnya), dengan garis hitam pada ujung ekor yang cukup kontras dengan bagian lain dari ekor. Bentuk elang versi gelap ini ketika terbang hampir serupa dengan elang hitam (Ictinaetus malayensis), dengan sedikit perbedaan pada bentuk sayap. Seluruh tubuh coklat gelap dengan garis hitam pada ujung ekor, terlihat kontras dengan bagian ekor lain yang coklat dan lebih terang. Atau warna tubuh hitam secara keseluruhan.

Jenis elang brontok versi fase terang, adalah berwarna coklat di sebelah atas, putih di sisi bawah tubuh dan ekor yang coklat kemerahan, dengan garis-garis hitam melintang pada sayap dan ekor yang nampak jelas ketika terbang. Terdapat coret-coret membujur berwarna hitam di leher dan bercak-bercak kecoklatan di dada. Nama brontok, mungkin corak warnanya yang berbercak-bercak terutama pada jenis brontok versi yang berwarna terang. Tubuh bagian atas coklat abu-abu gelap, tubuh bagian bawah putih bercoret-coret coklat kehitaman memanjang. Strip mata dan kumis kehitaman. Burung muda : Tubuh bagian atas coklat keabu-abuan, kepala dan tubuh bagian bawah keputih-putihan.

Sedangkan elang brontok pada versi fase peralihan, bentuk peralihan diantara kedua fase gelap dan terang, terutama terlihat pada pola warna coretan dan garis (tetapi lebih mirip fase terang); garis hitam pada ekor dan sayap tidak teratur serta garis-garis coklat kemerahan melintang pada perut bagian bawah. Iris kuning sampai cokelat, paruh kehitaman, sera kuning kehitaman, kaki kuning kehijauan.

Ras-ras tertentu memiliki jambul panjang yang tersusun dari empat helai bulu di belakang kepalanya, sedangkan ras yang lainnya sama sekali atau nyaris tidak berjambul. Betina serupa dengan yang jantan, hanya bertubuh agak besar; burung yang muda dengan kepala yang berwarna lebih pucat dan pola warna yang lebih samar.

Sayap yang panjang, terbentang mendatar tatkala terbang, dengan ujung (susunan bulu primer) yang nampak membulat, dikombinasikan dengan ekor yang panjang dan pola warna di atas, membedakannya dengan jenis elang lainnya.

Burung elang yang berukuran sedang sampai besar, dengan panjang tubuh diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor sekitar 60-72 cm. Perawakannya burung elang brontok terlihat tegap dan gagah.

Elang brontok berbiak di wilayah yang luas, mulai dari kawasan Asia selatan di India dan Sri Lanka, tepi tenggara Himalaya, terus ke timur dan selatan melintasi Asia Tenggara hingga ke Indonesia dan Filipina.

Burung elang ini umumnya hidup sendiri dan berpasangan hanya pada musim berbiak saja yang berlangsung antara bulan April sampai sekitar Agustus atau Oktober, di luar waktu-waktu tersebut sering ditemukan menjelajah sendirian di hutan-hutan terbuka, sabana dan padang rumput. Burung ini menyukai berburu di tempat terbuka dan menyerang mangsanya yang berupa reptil, burung atau mamalia kecil dari tempatnya bertengger di pohon kering atau dari udara. Tidak jarang burung ini merampok kawanan ayam di pedesaan.
Di Indonesia, burung ini didapati di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Sarang burung rajawali ini besar berukuran 95 – 105 cm dengan kedalaman 35 cm – 120 cm yang terbuat dari ranting-ranting pohon dan dedaunan di pohon yang tinggi.(10-50 meter) dari permukaan tanah. Dalam sekali musim berbiak, elang brontok hanya bertelur sebutir. Telurnya berwarna putih dengan bintik kemerah-merahan.

Anak-anak jenis elang brontok terbagi ke dalam dua kelompok, yakni kelompok yang memiliki jambul dengan yang tak ada (atau yang tak begitu nampak) jambulnya. Dikenal pula bentuk gelap (hitam) di sebagian wilayah sebarannya.

Kelompok berjambul
  • Spizaetus cirrhatus cirrhatus
Menyebar di India mulai dari lembah Sungai Gangga ke selatan.
Berjambul; tanpa bentuk gelap.
  • Spizaetus cirrhatus ceylanensis
Menyebar di Sri Lanka.
Lebih kecil dari ras India di atas, berjambul. Nampaknya juga tak memiliki bentuk gelap.
Kelompok tak berjambul
  • Spizaetus cirrhatus floris
Menyebar di Sumbawa dan Flores.
Sisi bawah tubuh kurang berpola, yang nyaris putih polos. Tak memiliki bentuk gelap.
  • Spizaetus cirrhatus limnaeetus
Nepal, India timur laut, terus melalui Burma dan Semenanjung Malaya sampai ke Garis Wallace hingga Filipina.
Hampir serupa dengan ras India, namun tanpa jambul panjang. Bentuk gelap berwarna coklat, dengan pangkal ekor yang nampak lebih terang daripada ujungnya.
  • Spizaetus cirrhatus andamanensis
Kepulauan Andaman
Serupa dengan S. c. limnaeetus. Agaknya tak memiliki bentuk gelap.
  • Spizaetus cirrhatus vanheurni
Pulau Simeulue.
Serupa dengan S. c. limnaeetus. Agaknya juga tak memiliki bentuk gelap
Elang brontok dilindungi oleh undang-undang RI.Sedangkan menurut IUCN, burung ini berstatus LC (least concern, beresiko rendah).

Elang brontok mempunyai habitat mulai dari padang rumput, hutan, kebun, sumber air yang dikelilingi pohon, perkebunan teh, hutan dekat perkampungan, bahkan hingga di pinggir perkotaan. Umumnya hidup di daerah berketinggian di bawah 1.500 m dpl meskipun terkadang ditemukan juga hingga di ketinggian 2.200 m dpl.

Daerah sebaran burung elang brontok cukup luas. Selain di Indonesia rajawali ini hidup juga di Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, India, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam.
Di Indonesia elang brontok tersebar mulai dari pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Sedikitnya terdapat 5 subspesies elang brontok di Indonesia, yaitu:
  • Nisaetus cirrhatus limnaetus, tersebar di Sumatra, Jawa dan Kalimantan serta di semenanjung Malaysia.
  • Nisaetus cirrhatus cirrhatus, tersebar di Sumatra dan Kalimantan selain di India.
  • Nisaetus cirrhatus floris, hanya ada di Flores dan Sumbawa
  • Nisaetus cirrhatus
    vanheurni, tersebar di pulau Simeulue Sumatra
  • Nisaetus cirrhatus andamanensis, tersebar di kepulauan Andaman
Populasi elang brontok diduga masih cukup aman. Karenanya birdlife internasional bersama IUCN Redlist hanya memasukkan raptor ini dalam status least concern atau beresiko rendah. Dan di Indonesia, burung ini termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, dan PP No 7 Tahun 1999, serta PP Nomor 8 Tahun 1999.